Sumber Foto; Sopo Alam (Ras)
Ketika
Petani Memilih Melawan
Sopo Alam/11 Jni 2012; Catatan
Muhammad Asril
Kami hanya akan menangis dalam sunyi. Sebab mengadu pada wakil rakyat
dan pejabat, hanya sebagai upaya menggugah nurani mereka. Namun kami takkan
tinggal diam hingga hak kami kembali.
Balutan hujan malam tak mengurungkan niat elemen rakyat
se-penderitaan datang. Meramaikan aksi solidaritas untuk Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri (KTTJM) yang
melakukan mogok makan di depan gedung mewah DPRD Sumut.
Sabtu (9/6) malam, berduyun-duyun petani, mahasiswa, buruh
dan pecinta lingkungan datang, duduk dan berorasi. Mengutuk ketidakadilan dan
menaruh simpati atas aksi mogok makan petani, aksi yang dianggap ingin
menggugah nurani wakil rakyat di DPRD Sumut.
Petani yang mogok makan, tidak tinggal diam. Dengan lakban
menutupi mulut, namun tangan lantang mereka yang diacungkan ke atas, menandakan
ketegasan.
Mereka mendesak dan menuntut wakil rakyat yang memiliki hak
dan wewenang, menaruh perhatian terhadap nasib mereka. Yang lahannya diserobot
PT Sumatera Riang Lestari (PT SRL) dan dan PT Sumatera Silva Lestari (PT SSL).
Orasi dan makian terhadap pejabat pemerintah dan wakil
rakyat mewarnai aksi solidaritas yang dimulai pukul delapan malam itu.
Kepolisian yang mengawal jalannya aksi, meski tidak banyak, terlihat juga
menaruh simpati.
Begitu pelintas jalanraya dengan kendaraannya. Tidak
sedikit yang mengurangi laju kecepatan kendaraan, mungkin sebagai tanda
simpatik atau hanya sekadar ingin melihat-lihat meski sejenak.
“Maafkan kami saudaramu yang tak bisa menggugah nurani
wakil rakyat ini. Pemerintah pun tak bergeming memperhatikan nasibmu. Kapitalis
telah menggerogoti nilai kemanusiaan milik pejabat dan wakil rakyat,” kata
elemen mahasiswa FISIP USU kepada aktivis mogok makan dalam orasinya.
Menangis dalam Sunyi
Elemen petani Helvetia,
Deliserdang juga tumpah dalam solidaritas. Mereka tak henti menyuarakan
kegetiran hidup di bawah ancaman kapitalis dan globalisasi modern.
Sebagai rakyat yang senasib sependeritaan, elemen petani Helvetia menegaskan mendukung penuh pergerakan dan
perlawanan yang dilakukan elemen petani KTTJM.
Johan Merdeka, juru bicara petani KTTJM di sela-sela aksi mengutarakan,
ada janji wakil rakyat saat petani pertama kali melakukan aksi mogok makan.
Kata Johan, DPRD Sumut berjanji akan menyampaikan beberapa tuntutan elemen
petani KTTJM kepada pihak yang dituntut petani.
Salahsatunya, penangguhan penahanan atas Sinur Situmorang, petani
yang dituduh melakukan perusakan fasilitas perusahaan.
“Padahal yang melakukan pembakaran terhadap rumah warga
adalah perusahaan. Bahkan, lahan warga juga turut diserobot,” kata Johan.
Parahnya, sambung Johan, saat pembakaran dan penyerobotan
lahan warga, ada oknum Polres Tapsel yang turut mengawal. “Terkesan kepolisian berada
di pihak perusahaan,” ujar Johan.
Kordinator Aksi Solidaritas dari Dewan Kesehatan Rakyat
(DKR) Sumut, Sugianto mengatakan, petani mogok makan akan melakukan aksi jahit
mulut. Hal itu akan dilakukan jika Senin (hari ini-red) janji yang diucapkan
wakil rakyat empat hari lalu atas tuntutan petani tidak juga dipenuhi.
“Kami hanya akan menangis dalam sunyi. Sebab mengadu pada
wakil rakyat dan pejabat, hanya upaya menggugah nurani mereka. Namun kami
takkan tinggal diam hingga hak kami kembali,” kata Sugianto.
Dihadang Masyarakat
Sugianto menambahkan, pihaknya sudah melaporkan kasus ini
ke pemerintah pusat.
Pada Februari lalu, ia datang tak sendiri. Ia bersama
beberapa kawan-kawannya datang ke Jakarta,
mengadukan nasib perampasan tanah oleh sektor swasta di sejumlah tempat di
Sumut.
Mereka melaporkan kasus-kasus itu ke Dewan Pertimbangan
Presiden (Wantimpres), Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas), dan DPR. “Di DPR
kami bahkan diterima Marzuki Alie (Ketua DPR), tapi sampai sekarang tidak ada
hasilnya,” katanya lagi.
Lama tak sabar menunggu jawaban dari pemerintah pusat,
petani akhirnya mengambil tindakan sendiri. “Makanya, jangan salahkan rakyat
jika mengambil tindakan sendiri,” ucap Sugianto.
Aksi solidaritas itu turut diwarnai monolog yang dilakukan
Sugianto. Menceritakan bagaimana narapidana mengakhiri nasibnya di tiang
gantungan.
Sejak 2008, bentrokan terus-menerus tak bisa dihindarkan.
PT SRL mencoba mengambil lahan masyarakat seluas 1.500 ha untuk ditanami akasia
dengan memasukkan alat-alat berat dan membuldoser lahan masyarakat.
Namun, mereka mendapat perlawanan masyarakat. Namun, pada
2009, 2010, 2011, dan Maret 2012 PT SRL melakukan hal yang sama. Akhirnya petani
melawan dengan caranya sendiri, yakni menggugah nurani wakil rakyat dan
pemerintah. (Ras)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar