Senin, 30 April 2012

Sungai Babura Tercemar, BLH Lamban Tahu Siapa Dalangnya

Harian Orbit/IKAN sapu-sapu diketahui paling tahan hidup di air kotor. Namun tiba-tiba tersiar kabar ribuan ikan sapu-sapu di Sungai Babura Medan bermatian.
Artinya air Sungai Babura sudah tercemar kimia sehingga ikan sapu-sapu bermatian. Hal itu dikatakan Perkumpulan Sopo, Fajar Kafrawi yang berlanjut sampai ke seminar lingkungan hidup di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU.
Dalam Seminar Lingkungan dan Launching Perkumpulan Sopo, Sabtu (28/4) tersebut,
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut mengatakan hingga saat ini belum mengetahui pencemar Sungai Babura.

Salah seorang staf BLH Sumut M Nur Hasibuan, yang mewakili BLH menjadi narasumber pada seminar tersebut menjelaskan, BLH Sumut dan BLH Medan telah terjun langsung ke lokasi matinya ikan sapu-sapu di Sungai Babura kawasan Jalan Z Arifin Medan.
Namun hingga saat ini, kata Nur, BLH Sumut masih belum mengetahui pelaku pencemar sungai Babura.
“Waktu meninjau lokasi, saya tidak turutserta karena memang ada bagian-bagian yang menangani permasalahan itu. Namun hal ini akan saya sampaikan kepada yang berwenang,” ungkap M Nur menjawab pertanyaan Harian Orbit, dalam seminar tersebut.
Mendengar statemen BLH itu, pengamat lingkungan hidup yang hadir pada seminar tersebut BLH terkesan lamban mengetahui siapa sebenarnya dalang pencemar air sungai Babura.
Sementara pengamat lingkungan Jaya Arjuna di tempat yang sama mengaku telah mengetahui pelaku pencemaran Sungai Babura yang menyebabkan ikan bermatian.
Menurut Jaya Arjuna, yang turut menjadi narasumber dalam seminar, untuk mengetahui pelaku pencemaran Sungai Babura merupakan hal mudah.
BLH Sumut, jelas Jaya, harus mengambil sampel air Sungai Babura untuk kemudian dicari kandungan logam yang ada. “Jika sudah ditemukan logam atau racun yang ada, maka BLH bisa mencari logam atau racun itu hasil dari kegiatan siapa dan perusahaan apa,” tandas Jaya.

Penggerak Kepedulian Lingkungan
Sementara dalam seminar yang bertemakan Pemuda Jadi Inisiator Peduli Lingkungan itu, turut hadir Mantan Direktur Nasional Walhi Nasional, Longgena Ginting.
Dalam paparannya, Longgena meminta kepada pemuda untuk mampu memahami dan memaknai perubahan iklim yang ada. “Ini sangat penting agar kita bisa memetakan penyebab perubahan iklim tersebut,” terang Longgena Ginting.
Hadir juga dalam seminar itu, peraih penghargaan Kalpataru bidang lingkungan hidup, Faris Sembiring. Dalam seminar yang juga dibalut dengan kegiatan penanaman pohon itu, Faris menawarkan 100 ribu bibit pohon kepada Perkumpulan Sopo.
Di tempat yang sama, aktivis lingkungan hidup dari Gemapala FIB USU, Heryanto Sihotang berharap agar Perkumpulan Sopo bisa menjadi penggerak pemuda dalam hal kepedulian lingkungan hidup.
Sedangkan Ketua Perkumpulan Sopo, Fajar, menyampaikan rasa salutnya kepada panitia yang bekerja keras menyelenggarakan kegiatan seminar ini. Kegiatan dihadiri sejumlah mahasiswa pecinta alam dan insan pers Kota Medan. Om-34/Om-35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar